Mendukung Tanpa Murung

Siapa sih yang tidak pernah jenuh ketika tugas yang dilakukan sesederhana memberi dukungan? Kurang lebih itu sempat terjadi di saya. Semua orang tahu, demi memaksimalkan daya upaya Ramot di sebuah rintisan baru (baca : startup prikitiw), kami memutuskan untuk hidup terpisah. Memang buat saya awalnya, pernikahan jadi terkesan percuma. Lah wong Ramot dulu jaman pacaran dibela-belain tinggal di UI biar hemat. Sekarang dibela-belain tinggal di kantor biar fokus. Kalau saya lagi muntab (mbuh opo iki) di kepala saya ada kaset rusak yang berbunyi :

Tahu gitu ga usah kewong ceu, ga nambah2in utang kalau toh akhirnya kita terpisah jarak (cuma beda Kelurahan sih ehek ehek ehek). 

Urusan lapak baru ini saya akui menurunkan kualitas pernikahan. Saya sering membatalkan cerita saya sendiri karena seluruh waktu pertemuan kami sudah 95% soal Peentar. Entah itu atap bocor atau pegawai baru. 

Saya sendiri akhirnya memutuskan cawe-cawe gratisan karena sebenarnya saya tahu Ramot bukan mahluk printilan. Dia bisa berpikir secara ide besar tapi dia butuh bantuan untuk menyelesaikan remeh-temeh. Selain itu hanya dengan cawe-cawe gretongan ini saya bisa tetap berkomunikasi dengan Ramot. Kalau mungkin saya menyibukkan diri dengan berkarir kami cuma akan berlomba-lomba bercerita soal kantor.

Ternyata setelah genap setahun tidur terpisah, saya merasa lebih banyak manfaat. 

  1. Saya tidak perlu frustasi membangunkan Ramot di pagi hari/ mikirin makan malam apa/ baju sudah ada atau belum
  2. Saya bisa membersihkan rumah kapanpun saya mau. Cucian piring saya juga nyaris 0. Lah wong cuma saya yang lihat sehari-harinya dan selebihnya saya makan di lur
  3. Ramot bebas bermain komputer sampai subuh tanpa tatapan sinis saya. Saya bebas menyapa pengikut saya di media sosial tanpa membuat Ramot merasa tersisih
  4. Kami sama-sama memilih untuk tidak meneruskan perdebatan ketika kami bertemu karena waktu yang terbatas

Saya bersyukur untuk itu semua. Mungkin terkesan egois atau tidak sesuai dengan kodrat istri. Masalahnya satu : saya tidak pernah peduli dengan kodrat muahaha. Selama saya berbahagia dengan kondisi saat ini, bisa dipastikan saya jauh lebih bisa mendukung Ramot dengan riang

wp-image-1511068123jpg.jpg

Nah hari ini saya benar-benar mensyukuri bagaimana kami bisa tetap kompak berdua motoran menembus hujan setelah rapat dengan investor. Saya akan mengenang hari ini justru sebagai hari terindah kami. Khayalan liburan sudah banyak yang saya justru lupakan. Saya tahu di masa yang akan datang, hari ini lah yang akan selalu saya kenang sebagai seorang pendukung yang pelan-pelan jarang murung.

hujan badai masih berlanjut


One thought on “Mendukung Tanpa Murung

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s