Ketika Pemilik Baba Rafi Bercerai

Sebenarnya ketika saya menulis tentang mendukung Ramot, saya sudah membaca lebih dulu di Kumparan perihal perceraian pemilik Baba Rafi. Saya tidak masalah jika anda tidak mengenal mereka. Memang cuma dikenal di kalangan Twitterland Indonesia koq. Saya bertemu dengan Mbak Nilam ketika dia menjadi pembicara yang diselenggarakan QM Finansial di sebuah coworking space (Comma) yang sekarang sudah tutup. Ketika saya mendengarkan tentang cerita yang ia bagikan, saya seperti melihat pencerminan diri saya sendiri. Tentu tidak persis plek ketiplek ya.

Jauh sebelum saya bertemu dengan Ramot, saya sudah sering mengamati pergerakan strategi bisnis berbagai perusahaan termasuk Baba Rafi. Baru setelah saya menghadiri acara tersebut saya tahu bahwa Kebab Baba Rafi dikelola suami istri. Bukan cuma si suami saja seperti tipikal perusahaan-perusahaan era orde Baru. Sebenarnya ada pasangan lain yang membuat usaha berdua dan cukup dikenal netizen (Twitter ya bukan FB..). Holycow dan Shout Cap misalnya. Cuma ketika saya membaca tulisan Ollie soal perceraian Nilam Baba Rafi dan suaminya, saya jadi tercekat sendiri.

Kekerasan verbal adalah hal terselubung. Pelaku tidak merasa hal tersebut sebagai sesuatu yang menyakitkan dan bisa membalikkan situasi dengan bilang korban terlalu terbawa perasaaan, sementara korban nyaris tidak bisa berteriak karena tidak ada jejak luka-luka selain rasa terpuruk yang semakin dalam. Orang sering berpikir kekerasan verbal semata-mata hinaan kebun binatang padahal situasinya tidak sesederhana itu. Saya yakin kekerasan verbal ini adalah hal yang wajar di pernikahan. Pencari nafkah merasa berhak mengucapkan hal-hal tersebut karena tanpa dia sumber keuangan keluarga, sementara anggota keluarga yang lain memutuskan untuk mencoba bersabar dengan mengelus dada.

Kekerasan verbal memang tidak bisa dijadikan alasan bercerai. Ketergantungan finansial lah yang membuat orang tidak bercerai. Ibu-ibu ga usah lah berlindung dalam jargon ‘ga bercerai demi anak‘. Kalian pikir anak-anak kalian bahagia dengan kondisi rumah yang bisa berubah dari suasana neraka jadi suasana perang dingin lalu tiba-tiba surga? Intinya kalian butuh uangnya

Buat orang-orang yang bertahan dalam pernikahan tersebut, kekerasan verbal disikapi dengan berserah kepada Tuhan dan meningkatkan ibadah. Dulu ketika saya belum menikah, saya mungkin bisa dengan lantang bilang, ‘ya udah tinggalin aja, kesehatan mental lu lebih penting. Berkarierlah!’ Sekarang ketika saya sudah menikah, saya harus merevisi pola pikir tersebut.

KETERGANTUNGAN FINANSIAL sepertinya menjadi kutuk untuk perempuan. Ambil contoh saya pribadi. Bagaimana saya bisa dengan jumawa memutuskan bercerai dari Ramot jika saya merasa sudah tidak tahan dengan hubungan kami, lah wong saya tidak bisa memenuhi kebutuhan bulanan saya pribadi. Saya menghasilkan uang, tapi ya receh. Mau sampai tahun baru Unta ya tetap saja pendapatan Ramot jauh di atas saya. Salah siapa? salah saya yang bolak balik ganti profesi dan ga membangun karir yang konsisten? Yang jelas, saya cukup bersyukur bahwa Ramot adalah seorang Feminis. Dia membebaskan saya melakukan apa pun dan saya juga tidak merasa ada intimidasi halus untuk ‘menjalani kodrat seorang istri’.

Jadi ketika saya memilih untuk membantu Ramot dalam kegiatan profesionalnya, itu adalah keputusan saya secara sadar bahwa memang itu yang ingin saya lakukan. Kalau beberapa istri enggan bekerja bersama suaminya, saya lebih memilih bekerja dengan Ramot daripada harus menyiapkan masakan untuk Ramot. INI BENERAN GA PAKE BOONG. Sekalipun saya dan Ramot sering terlibat dalam perdebatan terbuka karena saya memandang Ramot sebagai kurang cekatan dan Ramot melihat saya sebagai manusia yang gila kerja, saya lebih ga tahan harus setiap harinya memikirkan masak apa dan hal-hal rumah tangga lainnya untuk Ramot.

Balik ke cerita perceraian Baba Rafi. Dari pernyataan Nilam bahwa dia sudah mempertimbangkan hal ini selama bertahun-tahun, saya akui dia cukup mengambil langkah strategis yang layak ditiru. Dia memutuskan bercerai karena dia tidak lagi tergantung secara finansial dengan suaminya. Setelah selama ini dia hanya melihat dirinya sebagai orang di belakang layar mengerjakan printilan, dia pun mulai tampil di depan sehingga orang lebih mengenal dia. Kalaupun dia mau keluar dari Baba Rafi, dia masih bisa mendapatkan pekerjaan yang cukup menghasilkan (ga receh lah..). Kesempatan ini tidak dimiliki 90% perempuan Indonesia. Kebanyakan dari mereka yang bekerja berada di posisi yang biasa saja. Entah antara enggan mengejar karir demi waktu untuk mengurus anak atau memang ada kaca tipis di industri sehingga orang-orang yang bisa memiliki karir menanjak adalah laki-laki. Entahlah.

nilam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s