Tuan Tepat Pada Waktunya dan Nyonya Tepat Waktu Kembali ke Bali

Sudah lama sebenarnya saya ingin menemui Tante Ratna untuk belajar sesuatu (yang mana detailnya hanya ada WA kami pribadi). Rencana untuk terbang ke Balikpapan/ Samarinda urun dilaksanakan. Sampai kemudian saya melihat jadwal kebaktian di Bali diisi Tante Ratna sebagai pengkotbah. Hmm menarik. Terbang ke Bali jauh lebih mudah buat saya. Jadilah setelah maju mundur mengamati Traveloka, tiket dan penginapan saya order. Karena tadinya rencana awal saya berangkat sendiri tanpa Ramot. Penginapan sengaja saya cari yang bisa saya tempuh dengan berjalan kaki.

Ramot Mendadak Bisa Spontan

Ternyata Ramot tertular kebiasaan saya yang mengambil perubahan keputusan di detik-detik terakhir. Akhirnya Ramot menyusul Sabtu malam. Mungkin ini sudah rencana semesta. Kami jadi menjalani perjalanan ini berdua. Kebetulan ini memang bulan memperingati 7 tahun kami bersama. Anggap sajalah ini perayaannya (tentu diselingi dengan kerja-kerja-kerja). Jika ini 7 tahun yang lalu, Ramot 80% dipastikan tidak menyusul. Ramot adalah orang yang butuh kejelasan dalam menjalankan sesuatu di masa depan. Paham kan mengapa butuh waktu untuk Ramot akhirnya memutuskan menikah haha. Contoh sederhana ya. Untuk mancal kendaraan menuju ke gereja setiap kali kami harus tugas rekaman, Ramot merasa perlu siap segalanya dan menghabiskan waktu rata-rata lebih dari 10 menit begitu duduk di belakang setir. Entah itu kabel untuk setel lagu dari HP nya lah, atur suara lah. Bagaimana kalau itu perjalanan luar kota? Unduh film lah, bingung cari headset antisipasi bosan lah. Pokoknya list persiapannya sepanjang ular naga.Itu di luar waktu ingin ke toilet detik-detik menjelang keberangkatan. Saya? Seringkali menyiapkan pakaian sehari sebelumnya tanpa list yang harus dicontreng. Kalaupun ada barang terlupa bawa ya beli saja di lokasi atau tetap tenang tanpa adanya barang tersebut.

Vivi Belajar Tenang

Dengan persiapan paripurna tersebut, Ramot merasa tidak masalah dengan penambahan waktu entah itu ke-1, ke-2 sampai ke-10. Sementara saya yang sangat presisi menghitung waktu sudah tahu alarm keterlambatan semakin bergeser dari siaga 3 ke siaga 1. Beberapa kali kami harus ngebut karena alokasi waktu persiapan yang panjang tersebut. Dulu di awal hubungan, saya ingat pernah meninggalkan Ramot berangkat ke gereja sendiri dan HP saya sengaja tidak angkat. Ketika itu sepanjang hidup saya tidak pernah terlambat ke gereja. Saya pasang muka tegang dan menolak segala rupa permintaan maaf sambil menjaga kesombongan rohani saya.

Namun satu hal yang Tuhan ajarkan, saya bersama Ramot bukan untuk mengubah Ramot.

Pelan-pelan saya berusaha mengubah sikap saya sendiri sekalipun sering muka tegang dan diam seribu bahasa saya kelepasan nongol. Sebenarnya ketika itu terjadi saya sedang terjadi saya sedang berusaha menenangkan gemuruh di kepala saya dengan posisi ZEN #tarakdungces. Kalau dulu saya malah jadi senggol bacok ketika Ramot sibuk nanya mengapa saya cuma diam. Saya kemudian belajar menjawab dengan nada tenang bebas ketus sambil tetap menciptakan posisi ZEN di dalam saya sendiri. Posisi ZEN ini sebenarnya istilah saya sendiri sih. hahaha.

zen stone

Intinya ketika saya sedang dalam posisi ZEN, saya membayangkan diri saya sedang dalam posisi duduk yang nyaman, tenang, tidak melepas aura kejutekan, dan membangun damai.

Saya masih ingat 2014 ketika kami harus ke Pekanbaru untuk acara adat Ramot, saya memang sengaja berangkat belakangan salah satunya karena saya sebenarnya antisipasi gedubrakannya berangkat bersama Ramot (salah duanya? saya punya batas waktu di tengah keramaian orang yang cuma punya stok pembicaraan seputar remeh temeh dan politik). Benar saja, pulangnya atas nama kesempurnaan-susunan-acara-mumpung-aku-di-Pekanbaru-ketemu-handai-tolanku, kami gedubrakan mengejar pesawat kembali ke Jakarta. Begitu bisa duduk di pesawat, saya cuma bisa diam berusaha dalam posisi ZEN, Ramot seperti biasa menanyakan dan saya kesal karena saya gagal dalam posisi ZEN. Kalau batu-batu di atas adalah gambaran posisi ZEN, rasanya tidak selesai-selesai kemarahan saya sehingga menyusun batunya terus gagal jadinya saya menangis sepanjang Pekanbaru Jakarta. Hahahaha. Sekarang sih bisa ketawa, dulu mah jadi berceceran berapa kicauan galau hahaa.

Oh ya sebelum posisi ZEN tadinya saya mengambil posisi Menyibukkan-Diri. Jadi daripada hanya duduk menunggu, saya mencari kerjaan printil (biasanya saya dandan/ cek tanaman/ cek hewan) yang bisa saya sambil menunggu Ramot siap. Ternyata itu dipersepsi Ramot bahwa saya masih mengerjakan tugas sehingga jadi lebih lama lagi eksekusi waktu. Akhirnya saya memilih posisi ZEN.

Pro Kontra Itinerary

Begitu Ramot sampai di Bali, pembahasan Ramot ya soal susunan acara. Sementara saya itu enggan memegang itinerary di kepala karena saya akan cenderung memastikan perguliran waktu berjalan secara presisi. Padahal saya ingat betul Ramot pernah bilang bahwa saya dengan itinerary itu membuat orang berkejaran dan kurang nikmat liburannya. Ya sudah. Sejak itu saya memilih untuk lihat-aja-dulu-situasi-kondisi-toleransi alias ngalir saja. Jadi Minggu setelah bertemu dengan keluarga Ramot, saya memutuskan kami meluncur ke Potato Head yang dekat saja. Sesuai usia banget ya..

potato-head-bali-e1510988602744.jpg
serba kelabu: Warna langit favorit

Lanjut Senin.. Bisa dilihat kami melintasi tol. Itu juga tidak sengaja. Melihat bahwa motor bisa masuk ya coba saja. Dengan menempelkan emoney, saldo 4500 terpotong dan kami bisa seperti membelah lautan. Saya sampai sekarang masih penasaran dengan sebuah proyek seperti menara yang terlihat dari atas pesawat, dari tol maupun dari perjalanan motor kami. Entah itu akan jadi apa.

Pantai Payung Gunung ini kami sambangi karena saya melihat foto Vabyo (dia penulis yang mendapat tempat di hati saya secara khusus karena serangan stroke yang dia alami mengingatkan saya akan alm bapak dan Vabyo sendiri melanjutkan dengan perawatan di Yayasan Bumi Sehat). Pantai Payung Gunung ini tersembunyi di terjalnya tangga dan rimbunnya pepohonan penuh monyet. Tidak cocok untuk anak-anak. Masih ada sampah di beberapa jalur kami berjalan. Pokoknya saya akan menyebutkan 1001 alasan sehingga anda tidak tertarik ke Payung Gunung hahaha. Karena keterbatasan waktu (dan berharap menemukan pantai lain) memang kami tidak lama berenang di sini. Saya super menyesal mengapa tidak membawa bekal, menggelar tikar dan menyewa kano supaya bisa memutari pinggir laut di pantai ini. Huhu. Saya harus kembali dan berharap kalian masih tidak tertarik ke pantai ini huhuhu. Jika kita sering merasa perjalanan berangkat lebih lama daripada pulang. Jangan harap terjadi di sini. Perjalanan pulang jauh lebih berat dan menguras energi. Padahal notabene kami berdua sama-sama rutin olahraga. Pantai Payung Gunung mengingatkan saya pada pantai Suluban dengan karang yang lebih sedikit. Pokoknya pas.

pantai gunung payung bali
Pantai Gunung Payung ketika Mendung. Biasa aja kan

2 pantai lainnya biasa saja. Pandawa mungkin bisa menarik. Sayangnya karena akses jalan bisa dilalui bis. Rombongan bis berplat AG bisa parkir jadilah penuh dengan remaja tanggung. Pantai Melasti penuh karang. Terus dijadikan lokasi untuk foto pranikah. Semacam ingin menunjukkan realita perkawinan : Terlihat bagus di foto tapi tak semudah itu menjalaninya belum lagi banyaknya karang yang mesti dilewati tapi pelaku tetap perlu memasang senyum penuh pesona agar terlihat romantis dan baik-baik saja.

pantai melasti bali
Sebenarnya dekat bangunan tersebut ada calon pengantin yang sedang melakukan sesi pemotretan yang saya yakin tersiksa dengan sengatan matahari yang bergantian dengan awan mendung. Yah demi foto yang tjantik. Beauty is pain right

Lalu apa yang saya dapat dari perjalanan menemui Tante Ratna? Memang sendirian menjalani hidup (sendirian tak melulu monopoli kaum lajang ya, karena yang menikahpun sebenarnya juga merasa kesepian di balik anjuran yang mereka ucapkan secara semena-mena kepada kaum lajang untuk segera menikah) bisa membuatmu hanya berharap kepada Tuhan saja bukan kepada manusia.

Seperti apa yang Tante Ratna sampaikan : Belum Selesai. Sayapun tahu ada hal di kami berdua yang BELUM SELESAI. Kebetulan kami berdua adalah rekan kerja yang bersahabat dengan baik jadi berkomitmen dalam rumah tangga pelan-pelan terasa ringan. Namun itu saja belum selesai. Akhir kata :

Semua orang tanpa Tuhan bisa berusaha berkomitmen sampai maut memisahkan tapi hanya KASIH yang bisa membuat manusia berkomitmen tanpa kebingungan bagaimana mengatasi jemu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s