Ke Museum Macan untuk Patah Hati

Manusia Berencana, Panitia Bercanda. Kurang lebih begitulah yang saya alami pertama kali menginjakkan kaki di Museum Macan. Dibuat oleh Yayasan Nirlaba Macan (yang mana saya masih berkeyakinan pasti ada korporasi d belakang yayasan ini), museum ini berada di gedung AKR yang sepertinya baru selesai dibangun. Di kiri kanan area parkir masih banyak sudut-sudut yang belum dirapikan. Kotak hidran baru saja datang, penunjuk arah hasil print-an tapi acara tetap lanjut digelar.

Ya tentu saja tujuan utama saya melihat karya Yayoi Kusama dengan Ruang Infiniti. Memang pameran Yayoi yang lebih lengkap sudah terjadi beberapa bulan yang lalu di Singapura. Jadi kehadiran Infinity Room di Jakarta cukup untuk pelipur lara.

Melihat antrian yang padat saya memang memilih liat karya lain dulu. Apa nyana ternyata saya terlambat 12 menit dari waktu yang ditetapkan panitia yaitu 17.00 Infinity Room tidak bisa lagi dimasuki tanpa ada informasi apapun dari panitia sebelumnya. Pameran sendiri tetap buka sampai jam 7 malam sesuai jadwal. Ternyata info soal Infinity Room hanya sampai jam 5 baru ditayangkan di bio Instagram

Kecewa itu pasti karena posisi Wisma AKR tidak mudah diakses untuk saya. Petugas keamanan bisa dengan santai bilang untuk datang di hari kerja yang pasti lebih sepi. Masalahnya siapa sih yang mau menembus kemacetan Jakarta di hari kerja dan kembali membayar 50.000 (di luar transport dsb dst) untuk memasuki ruangan yang dibatasi selama 45 detik?

Huhuhu. Terus di mana lagi bisa lihat pameran Yayoi Kusama dalam waktu dekat ini? Ada kayaknya.. di Los Angeles. Hahaha.

Ramot menangkap kekecewaan saya dan sebagai orang dengan moto strive for excellence ( sudah kaya Australian International School; tempat kerja saya dulu), Ramot mengajak kembali lagi minggu depan. Sayangnya saya bukan orang yang dengan sukacita mengulang sesuatu hanya untuk kepuasan batin. Yah pameran ini memang berlangsung sampai Maret 2018 tapi belum tentu saya mau datang lagi untuk Infinity Room.

Oh ya terlepas dari karya Yayoi, saya niat mendatangi Museum Macam karena Raden Saleh dan Andy Warhol. Sekalipun sudah beberapa kali saya melihat karya Raden Saleh, saya tidak pernah bosan berulang kali memandangi.

Kalau pengenalan saya akan Warhol dan Basqiat lebih banyak karena saya jadi tahu pelukis dari luar negeri karena pernah membantu murid saya di Australian International School.

5 thoughts on “Ke Museum Macan untuk Patah Hati

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s