Mengapa Saya Tidak Memasak untuk Suami

Kesibukan kantor Ramot sudah berlangsung sejak Natal. Per masa itu dengan tenang saya membiarkan Natal, Tahun Baru menguap begitu saja. Lalu karena SItuasi KONdisi dan TOLeransi, maka makan siang dan makan malam Ramot pun dipesankan katering.

Saya sempat ditanya mengapa saya tidak masak untuk Ramot

Sebuah stigma yang ditancapkan dari era Indonesia belum merdeka (oh ya pemahaman ini dan masih banyak pemahaman kaku lainnya di Indonesia membuat saya sebenarnya ragu dengan kecepatan orang Indonesia menyerap teknologi baru apalagi disuruh beradaptasi; tapi nanti ya tulisan soal saya mencela-cela generasi merasa-Millenial-Terjebak-Era-Kolonial di tulisan berikutnya). Baiklah saya jawab dulu pertanyaan di atas:

  • Saya tidak percaya kodrat, seperti saya tidak percaya setan . Kodrat (buat saya) hanya menciptakan sebuah aturan berkepanjangan ala Taurat untuk memenuhi standar ideal sebuah peran manusia. Kodrat jadi anak lah, kodrat jadi istri, kodrat jadi suami. Ya elah cuy hidup cuma sekali abis itu jadi debu, betah amat sih diatur-atur yang mana seringan bikin frustasi tapi diendapkan dalam tayangan mencoba bahagia di media sosial
  • Ada hal yang bisa saya kontribusikan ala kadarnya dalam hidup Ramot dan hal tersebut bukan diisi dalam kotak makan. Iya kontribusi saya ala kadarnya untuk Ramot yang segala sesuatunya butuh sempurna. Saya pernah koq mencoba masak. Selalu ada celah kritik dan saran jadi ya sudah. Saya kan orangnya gampang menyerah.

Nah kontribusi apa yang saya berikan? Saya mencoba mengisi peran sebuah pengaturan mikro yang tiada artinya seperti remahan debu kipas angin. Seringkali itu menjadikan saya harus tidur melewati jam tidur dan bangun lebih pagi. Semata-mata agar situasi tetap berjalan baik. Bukan karena Ramot tidak bisa. Namun Ramot adalah orang yang melihat gambaran besar dan jauh ke depan, saya adalah orang yang melihat retakan tembok bagai rambut dibelah tujuh di sudut ruangan. Jadi semacam menyeimbangkan satu sama lain. Saya tentu saja seperti manusia tidak bersyukur pada umumnya suka menggerutu bahwa semua yang saya lakukan gratisan dan Ramot balas menyambar bahwa toh gajinya 100% saya kelola. Saya pikir-pikir lumayan juga numpang hidup gratis tanpa tuntutan harus bagus di dapur, sumur apalagi kasur. Ramot cukup bahagia pakai kasur busa pemberian teman untuk tidur di kantor selama dua tahun ini.

Kompensasinya ya Ramot sering mendapat ide (ala kadarnya) kreatif untuk team building perusahaan, penyelenggaran kegiatan yang menarik dengan budget hemat, dukungan dalam bidang komunikasi marketing, pemeliharaan ruangan kantor (AC, listrik, pompa, kunci macet, garasi, mobil, semua pasti gue jawab : YA SIAP LAKSANAKAN) dan tentu saja hasil observasi dan penglihatan saya yang seringkali ciamik. Dah gitu doang dan sampai sekarang masih belum paham mengapa Ramot membutuhkan surat nikah toh saya nikah ga nikah tetap menjalankan peran sebagai partner kerja.

contoh foto mencoba bahagia padahal kaki kesemutan mati rasa

3 thoughts on “Mengapa Saya Tidak Memasak untuk Suami

  1. Aku juga jarang masak untuk suamiku Mba. Dan dia ga pernah protes. Suamiku jago masak. Jadi kalo misalkan aku malas masak,gantian dia yang masak.
    Salam kenal mba Vivi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s