34

Setelah menginsyafi bahwa uban mulai muncul di usia 33, sekarang di usia 34 saya dengan lapang dada menerima kenyataan bahwa wajah saya mulai menunjukkan kantung mata. Haha. Nah untuk urusan itu saya serahkan ke Avoskin Eye Cream. Ngefek atau gaknya terus terang saya tidak pantau. Ini setara dengan pemakaian krim muka rutin yang saya dapatkan dari jemaat gereja tanpa tahu kandungannya. Mungkin saya pakai semata-mata sebagai dari sebuah kegiatan supaya merasa sudah berusaha.

WhatsApp Image 2018-02-02 at 19.38.40

Sebenarnya saya tidak akan pernah tahu soal kantung mata ini kalau Ramot tidak pernah mengomentarinya. Ya harap maklum Ramot sangat peduli dengan tampilan sementara saya hampir tidak mempedulikan. Koq Ramot mau sama saya? Loh ndak tahu apa kalau Ramot kena aji-ajian pelet saya? He he he. Lanjuttt

Setiap kali menjalani tahun yang baru, saya tidak pernah berlarut-larut menoleh ke belakang dan berandai-andai kembali ke suatu masa atau menyesali yang telah terjadi. Semua tautan tulisan di bawah ini semata-mata saya buat agar bisa mendapatkan gambaran menyeluruh bagaimana saya bisa seperti sekarang ini. Ada satu hal yang menggelitik ketika saya menemukan kicauan ini, saya menyadari, inilah sebuah kecolongan terbesar dalam hidup saya ketika kepala 2:

WhatsApp Image 2018-02-02 at 18.06.55 (1)

Untungnya hal tersebut sudah sempat saya rintis di penghujung kepala 2 ketika saya menuruti keputusan Ramot enam tahun yang lalu untuk merintis usaha di Depok. Sepertinya saya sudah banyak menulis tentang bagaimana Ramot tanpa banyak berkata-kata mengupas sisi saya yang lain. Bahwasanya di awal saya merasa frustasi dan menyalahkan Ramot juga sudah sering. Namun sekarang saya jadi bisa berempati kepada orang-orang yang masih terkungkung dalam pikiran mereka yang merasa-tidak-bisa persis seperti yang terjadi kepada saya dulu. Okeh empati saya ini sebenarnya tidak bisa dilihat murni 100% mem-pukpuk ya. Seringan saya menempeleng dengan pernyataan-pernyataan tajam yang tidak disaring.

SOAL TAMPILAN LUAR

Di usia baru ini saya mulai memilih merawat diri saya dengan olahraga dan perawatan kulit semata-mata setidaknya berusaha memberikan yang terbaik untuk diri karena saya tetap percaya manusia berencana, Tuhan bercanda. Berat badan saya tidak berkurang, wajah saya tidak langsung cerah seperti yang dihembuskan ulasan dengan harapan menaikkan penjualan, tapi setidaknya saya bersyukur saya masih punya uang untuk menjaga hidup sehat tanpa ada daya pikat.

SOAL INDERA YANG LAIN

Kalau selama beberapa tahun belakangan saya memilih untuk tidak memberitahukan bahwa sebenarnya saya bisa melihat masa depan beberapa orang yang dekat dengan saya, sekarang yang kasitahu saja lah. Toh tidak ada tarifnya. Tentu saja dampaknya saya bisa melihat tentang diri saya sendiri. Maka mungkin beberapa kali saya pundung. Bukan soal saat ini tapi soal logika saya berjalan dan meragukan bagaimana bisa masa depan itu terjadi. Nah ini sebabnya saya berusaha untuk tidak terlalu dekat dengan orang atau berkepanjangan mendengarkan curhatan. Saya pasti langsung bisa mendapatkan gambaran yang mana menjemukan saya karena biasanya ketika saya mengirim semacam kode, orang-orang tersebut sering menanggapi dengan tatapan ah-lu-aja-kali-yang-kelewat-paranoid. Itu terjadi kepada Ramot, teman SMA saya Santi dan mungkin ada beberapa orang lain yang enggan saya sebutkan namanya. Ada kebetulan orang yang tidak dekat dengan saya justru saya dapat gambaran jelas, ada juga yang sehari-harinya dengan saya, tidak saya dapati pencerahan sedikitpun.

Kadang saya menikmati, kadang saya juga lelah memiliki talenta ini. Yah adalah sedikit menertawakan ketika orang-orang yang saya ‘lihat’ awalnya optimis lalu berujung isak tangis.

CANDU

Saya punya teori setiap manusia punya candu atau bahasa lunaknya obsesilah. Dalam hal ini ada dua candu yang ingin saya lepaskan dan yang terberat adalah candu terhadap gula. Saya sekarang bisa berempati kepada orang yang sulit melepaskan rokok. Saya pun tidak bisa melepaskan gula. Dengan pola makan sehat yang disediakan kateringpun saya tetap bisa mencari jalan menemukan sumber gula saya. Berat. Saya akui dari semua aspek hidup saya yang belum selesai adalah soal candu.

Penutup

Saya tidak mengucapkan harapan ketika saya ulang tahun karena saya lelah meletakkan iman atas keinginan saya. Banyak hal yang dulu saya pernah imani saya akan peroleh nyatanya tidak terjadi. Selain usaha mengimani yang besar, ada kekecewaan berujung frustasi setelah kegagalannya. Saya berhenti menyusun harapan semata-mata untuk menjaga kewarasan. Saya tetap orang yang menjalani saja dulu apa yang di depan mata sampai akhirnya semua kepingan itu tersusun dengan jelas apa sebenarnya rencana Tuhan dalam hidup saya.

Yah begitulah kisah hidup saya, tidak gilang gemilang tidak juga menginspirasi sekedar rekam jejak yang mungkin berguna bagi orang yang tidak ada bahan bacaan.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s