2 Alasan

Sore ini sepertinya semesta sedang penuh cinta. Saya berpapasan kembali dengan teman SMA saya yang tinggal di Pesona Khayangan, Jou Samuel Hutajulu. Tidak seperti biasanya yang mana dia melintas di kisaran jam 17.30, kami baru berpapasan jam 18.00. Entah karena hari ini Valentine atau karena hal lain, tersembul sebuah balon merah terang dari kantung plastik yang dijinjingnya. Di resto tempat saya menulis ini pun Bu Tasia (my ex-boz) dan suami sedang merayakan 15 tahun pernikahan bersama Azzam, anak semata wayang mereka.

Karena nuansanya penuh cinta jadilah tulisan ini dibuat. Saya jadi teringat dengan pertanyaan ke Ramot (partner hidup) sepuluh hari yang lalu. Apa yang membuat Ramot memilih saya ? Mengapa pula saya perlu diperjuangkan? Sementara saya adalah orang yang gampang menyerah termasuk itu urusannya soal perkawinan. Saya sendiri tidak pernah menyusun kriteria pasangan hidup ideal. Saya selalu bilang ‘ada yang gila ajak gw nikah, cukup sudah‘ Ini semata-mata ketidakpercayaan saya bahwa ada manusia yang mau menghabiskan hidup dan uangnya bersama saya haha. Sementara Ramot punya. Kalau dulu sih saya ingat betul Ramot punya kriteria ala artis diwawancara acara gosip entertainment : cantik, pintar, baik. Nah saya tidak memenuhi kriteria tersebut. Pantang ngepas, IQ jongkok, temperamental. Terus apa dong? Tsah eug nulis jawaban aja udah ala rangkaian kata untuk kampanye calon gubernur yak.. Cuma 2 :

  • Ada untuk Mendukung

Saya selalu berprinsip bahwa hidup itu cuma sekali. Kalau cuma terseok-seok menjalani hari jadi hamba, tarik diri untuk merefleksikan diri. Menyerah atau lanjut. Itu sebabnya ketika Ramot memutuskan mengundurkan diri dari Kartuku (2017 Kartuku akhirnya dibeli Gojek), saya sama sekali tidak berpura-pura mendukung sambil memastikan dia mencari kerja lagi. Menganggur-kerja lepas-wiraswasta sudah dijalani Ramot selama bersama saya. Gentar? Pasti pernah lah nyet. Namun saya terlalu percaya bahwa ada rencana Tuhan ketika kami melewati rangkaian detour.

Mendukung ini juga melatih saya untuk tidak menuntut. Perubahan yang terjadi pada Ramot 7 tahun ini 100% hasil pencerahannya sendiri. Bisakah saya menunjuk-nunjuk beberapa aspek perilaku dan sikap Ramot yang sebaiknya diubah di awal hubungan kami? Tentu saja! Namun manusia cenderung terluka jika dikritik terus menerus. Saya justru lebih bersyukur perubahan positif Ramot sekarang ini: tepat pada waktunya dan ada damai sejahtera. Bukan terburu-buru dan penuh tekanan batin. Okeh jujur, saya menuntut Ramot membuang Crocsnya. Buat saya itu adalah sebuah kejahatan tata busana. Ramot meminta ijin menikah kepada ibu cuma dengan kaos kutang robek dan celana pendek bisa saya maafkan. Namun sandal Crocs, AXE, kemeja mbladus dari jaman kerja di UI adalah benda yang saya buang tanpa perasaan.

  • Hadir untuk Membantu

Menyiapkan acara perhelatan, memilih pakaian apa yang sesuai untuk kegiatan apa, bahkan menyiapkan beberapa kebutuhan Peentar sampai membantu perekrutan Peentar adalah sebagian kecil printilan yang saya bantu kerjakan untuk Ramot.

Memasak menjadi hal yang tidak penting karena lebih baik saya merapikan dokumen yang kesannya klise tapi penting. Dia sering kesal kepada saya mengapa saya repot-repot membantu urusan Peentar kalau itu membuat saya kelelahan. Ramot lupa, saya sudah tahu bahwa salah satu yang Tuhan beritahukan kepada saya jauh sebelum Ramot terpikir untuk menikah dengan saya adalah menjalani hari-hari ini. Kalaupun saya berkeluh kesah, saya tidak akan berhenti menyelesaikan apa yang Tuhan sedang pernah tugaskan kepada saya bahkan ketika Ramot masih pacaran dengan Citra. Haha. Apakah itu artinya Tuhan cuma menugaskan saya hidup di bumi ini untuk sekedar membantu Ramot? Tentu saja tidak. Gila lo bok. Situ kali yang percaya bahwa tujuan hidup lu mang jadi segitu-gitu aja seumur idup. Eike mah gak ye

Namun apa yang sebenarnya Tuhan mau terjadi dalam hidup saya belum dibuka kartunya sampai saya menyelesaikan modul yang satu ini. Yah kalau di dunia profesional ini semacam belajar jadi asisten dulu lah sebelum jadi bos. ehe ehe ehe. Saya berulang kali ingin menyerah koq. Sudahlah kutinggal pergi saja Ramot ini. Dia akan baik-baik saja toh selama 2.5 tahun ini juga sudah hidup di Peentar. Toh saya bukan orang yang merasa perlu mengutamakan lembaga pernikahan. Blah. Huek.

Namun akhir 2017 setelah saya menyampaikan niat tersebut kepada Ramot saya jadi menemukan pencerahan. Saya masih di sini. Enak. Numpang hidup. Kebutuhan primer saya : sandang, pangan, papan, dan wifi dibayarin. Kurang sugar apa coba sugar daddy yang satu ini ya khan.

Jadi begitu ya. Ini bukan kisah Rangga Cinta, Dilan Milea, Adit Tita. Tidak ada Jogja, Bandung ataupun Paris sebagai pelengkap latar tempat romantisme. Ini kisah gadun dan gula asemnya di sebuah kota suburban yang biasa saja. Hahaha.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s