P: Yang Memisahkan & Menyatukan

Ndak usah lah pakai nanya apa itu P. Ternyata seperti yang sering saya dengungkan : ‘tidak ada yang abadi di bumi ini‘ terjadi pula pada keterlibatan Ramot di P. Banyak hal terjadi dan saatnya Ramot pergi.

Ramot memutuskan untuk memberitahukan kepada beberapa orang-orang di P hari Jumat pagi, 6 April 2018 sebelum kami pergi ke pemakaman bapak tengah saya. Seminggu itu sejatinya adalah minggu yang berat untuk saya. Sebelum bapak tengah saya meninggal, saya sudah berulang kali ingin menghubunginya. Namun tidak saya lakukan. Tahukah kamu penyesalan yang paling berat adalah ketika tidak sempat mengatakan apapun? Lalu di acara adat, saya diminta mengucapkan kata-kata terakhir. Itu adalah hal terberat yang harus saya lakukan. Mengungkapkan penyesalan dan perasaan adalah hal terberat.

Jika di bulan Maret sepanjang 1 minggu saya lebih banyak stres masalah anjing mati ketika disteril, April lebih karena lapisan perasaan saya seperti dikupas dan diungkap. Sesuatu yang tidak pernah saya sukai. Saya terlatih menutupi perasaan negatif saya yang sesungguhnya, dengan terus menerus bekerja. Ketika saya diminta untuk mengungkapkan apa yg sebenarnya saya rasakan, perihnya luar biasa. Kan lebih baik dikeluarkan? Ya buat kamu. Mengeluarkan perasaan bukan sesuatu yang biasa saya lakukan.

Ketika hampir 80% PenghuniP yang diundang hadir & Ramot membuka acara singkat tersebut, saya tidak menduga bahwa alasan Ramot keluar dari P adalah karena saya sudah sempat bertekad meninggalkan Ramot akhir 2018. Saya pasti bisa dengan tegar di hari itu jika tidak ada penjembrengan tentang saya. Ramot kemudian menambahkan bahwa saya adalah jangkar Ramot. Jika yang menjadi jangkar memilih memutuskan lepas, apalagi yang bisa diperjuangkan? Ramot memilih memutuskan untuk memperbaiki Rumah Steril yang morat marit karena itu satu-satunya yang tertinggal untuk mengikat kami berdua. Tambah ambrol lah air mata saya di situ

Lah ini gimana sih? minggat koq pamitan? Iya. Per Januari 2017 saya sudah merasa bahwa saya jenuh menjadi istri Ramot. Tidak ada peran apapun yang saya lakukan selain membantu memikirkan bagaimana baiknya untuk P. Saya berpikir, buat apa Ramot repot-repot utang untuk nikah lintas propinsi, kalau toh Ramot hidup di P dan saya hidup sendiri. Saya menutupi ganjalan tersebut dengan mengelola toko online Rumah Steril sementara saya sebenarnya enggan berkomunikasi dengan siapapun anggota keluarga Ramot untuk menjaga agar kepahitan saya tidak tercetus. Iya sih ga keceplosan tapi gw ga pernah senyum juga. Suramlah pokoknya.

Soal Rumah Steril, per Oktober 2016 saya urus secara penuh dan kemudian membuka toko daring di Tokopedia, Shopee dan Bukalapak semata-mata untuk menghalau sepi. Lalu kemudian keuangan Rumah Steril berantakan dan ada Ramot sempat terkejut mengapa ada utang saya pun sempat marah pada diri sendiri. Sesuatu yang tujuannya agar saya berdaya malah membuat saya kembali tak berdaya karena utang.

Nah perhatikan kunci saya menghadapi masalah? Saya menutupinya. Memang saya tidak pernah menyampaikan kepada Ramot bahwa ia perlu pulang? Satu perjanjian saya kepada Tuhan :

Saya mendampingi Ramot bukan untuk mengubah Ramot menjadi seperti yang saya mau tapi mendampingi Ramot untuk menjalani apa rencana Tuhan dalam hidup Ramot.

Jadi saya tidak pernah kritik keras Ramot jika saya tidak mendapat aba-aba dari Tuhan. Itu sebabnya di tahun 2016, saya marah sekali membaca surel dari ex-karyawan P. Dengan bahasa yang tidak penuh kasih, dia membawa Yesus sampai mengutip kotbah pendeta. Apakah ada poin-poin yang dia sampaikan benar? Iya ada. Apakah begitu yang Tuhan mau dia sampaikan? Salah total.

Lanjut ya, Sekalipun Ramot awalnya berjanji bahwa Sabtu Minggu dia kembali ke rumah dan pada kenyataannya itu hanya terjadi 5x dalam 2.5 tahun saya memilih untuk mendukung Ramot secara penuh. Saya mengumpulkan pembenaran: Ramot butuh waktu sendiri setelah lelah bekerja dari Senin – Minggu, toh kami bisa bertemu dengan saya yang ke Peentar dsb dst. Namun di titik nadir saya, menjelang perayaan 7 tahun kami bersama, saya menyatakan kepada Ramot bahwa saya berencana untuk meninggalkan Ramot. Lucu sih saya mengungkapkan hal tersebut sebelum nonton konser NAIF.

Rencana dan uang sebenarnya sudah saya susun secara seksama satu tahun sebelum eksekusi yaitu Sept 2018 supaya lancar. Mengapa Sept 2018? Dengan asumsi proyek Kiamat selesai implementasi bulan tersebut. Saya ingat Ramot terpukul ketika saya menyampaikan itu. Namun saya percaya ;

tidak akan pernah ada waktu yang tepat untuk mengajukan pamitan.

Kami mulai pernikahan baik-baik, tentu alangkah baiknya pisah baik-baik.

Toh sebagai orang yang tidak pernah mengagungkan lembaga pernikahan, keputusan ini adalah keputusan yang paling enak buat saya. Dih egois amat? Lah situ ga tahu, waktu nikah aja semua Ramot yang siapkan sampai urusan cari utangan. Hahaha. Saya mana peduli.

Nah balik ke Jumat pagi, 6 April 2018, ketika Ramot menyampaikan hal tersebut kepada beberapa karyawan, saya pikir Ramot mengatakan, ‘saya sudah tidak sanggup bla bla bla jadi saya akan mengundurkan diri bli bli bli‘. Ternyata Ramot menyatakan bahwa alasannya adalah karena saya sudah mau meninggalkan dia. Saya yang ada di sebelahnya seketika bengong dan mulai menangis. Saya tahu betul Ramot adalah orang yang akan selalu menjaga citra jika itu menyangkut keluarga atau rumah tangga. Saya tidak menduga Ramot akan mengucapkan hal tersebut mengingat cerita yang ia bangun kepada keluarganya bahwa kami baik-baik saja.

Oh ya sebenarnya saya dan Ramot memang baik-baik saja. Total 7 tahun bersama maka 6,5 tahunnya kami adalah rekan sekerja yang saling mengisi dan bertumbuh bersama. Ramot adalah kritikus dan analis saya dan sebenarnya saya dengan sukacita melanjutkan hubungan kerja ini sampai kapanpun saja. Jika saya diposisikan sebagai rekan kerja, ga masalah. Saya cuma mau mengundurkan diri dari 1 peran: jadi istri.

Paska November 2017, hubungan kami tetap baik. Saya malah yang berinisiatif untuk menjalankan Perkawinan Tangkas: Sebuah Solusi Logis untuk Hubungan Morat Marit. Idenya dari mana? Dari Agile Campus tentu saja. Iyalah, ga usah menjalankan Agile Parenting kalau Agile Marriage aja ga bisa. Bukankah sumber ganjalan pernikahan itu bukan masalah anak-anak tapi masalah suami-istri? Soal Perkawinan Tangkas ini nanti ya saya bahas kalau kami berdua sudah selesai melakukan percobaan.

Saya juga mendapatkan pencerahan bahwa saya harus bersyukur saya bisa numpang hidup dari gaji Ramot tanpa ada tuntutan apapun. Tongkat estafet soal ganjalan pernikahan ini saya sudah serahkan kepada Ramot dan sejujurnya saya bisa pura-pura tidak masalah jika Ramot masih memilih tetap seperti ini. Padahal saya benar-benar merasakan seperti kepiting yang direbus hidup-hidup. Paling kalau ga kuat, saya akan kabur beneran di September 2018. Toh saya ini punya reputasi gampang menyerah.

Namun Ramot adalah orang yang berkebalikan dari saya. Dia selalu memperjuangkan segala sesuatunya sampai titik darah penghabisan sakit ga ketahuan apa penyakitnya. Ramot pun ingin memperjuangkan perkawinan ini. Ke depannya? kembali hidup di bawah satu atap setelah sekian lama terpisah butuh penyesuaian. Dimulai hal sederhana bahwa saya sudah terlanjur tidur sendiri, saya justru akan terganggu jika berbagi kasur dan perkara sarapan. Saya terlanjur terbiasa bertahun-tahun sarapan sendiri tanpa perlu memikirkan Ramot

Namun Ramot memilih pulang dengan segala konsekuensinya : tidak ada lagi gaji bulanan dsb dst. Kembali ke gaya hidup palugada yang hari esok itu masih punya Tuhan.

IMG-20180405-WA0033.jpg

Lalu apakah perjalanan ini melenggang mulus ke depannya? Tentu saja tidak. Pernikahan ini kan mengalahkan telenovela Maria Cinta yang Hilang. Masih ada 100 episode ke depan dengan segala belokan alur cerita.

Advertisements

3 thoughts on “P: Yang Memisahkan & Menyatukan

  1. Kita semua tahu bahwa alasannya adalah tempat kerja yang tidak lagi kondusif. Gw aja juga kaget, seharusnya gw duluan yang keluar. Hahaha….

    You are a great wife, still.

    Urusan per-startup-an ini memang sulit dan memakan kehidupan pribadi semua orang. Beruntung si Ramot punya lo.

    GBU.

  2. @jepe: jadi begini, Jep. Alasan yang gue kemukakan itu adalah alasan yang paling jujur gue kemukakan. Pertimbangan utama gue untuk mundur adalah gue sudah melihat kalau gue masih memaksa meneruskan keadaan saat ini, maka perpisahan yang direncanakan Sept 2018 itu sudah pasti terjadi karena Vivi bukan orang yang sembarangan akan memberitahukan sesuatu. Istilahnya, bukan hanya karena lagi kesel ama gue atau lagi PMS.

    Kalau soal kantor tidak kondusif, itu sebenarnya gue lebih ke arah menunggu arahan Tuhan. Jadi andai saja misalnya Vivi tidak menyatakan akan meninggalkan gue, keadaan kantor bagaimanapun paling gue hanya akan cari tempat menangis yang privat tapi habis itu lanjut kerja karena pekerjaan gue di mana itu sudah sepenuhnya Tuhan yang menentukan.

    Dan menurut gue Vivi tergerak ngomong itu pun memang arahan dari Tuhan: sudah saatnya move on.

    Karena apa yang dipersatukan Tuhan tidak boleh diceraikan manusia.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s