Lapor Pajak 1770

Bagi anda yang sudah baca tulisan saya sebelum ini, penasaran apa yang terjadi setelahnya? Tentu tidak. Hahaha. Ke San Diego yang di Karawang bukan di AS, masing-masing sibuk dengan gawai untuk koordinasi urusan pekerjaan, sampailah di titik : lapor pajakk.

Nah alasan Ramot dan saya susah pisah mungkin karena kelemahan akut masing-masing. Kelemahan Ramot ga perlu lah saya jembreng satu per satu. Lebih baik saya jadikan buku ketika dia sudah sakses kasi makan 2 juta orang biar orang-orang beli xixixixi.

Iya 2 juta. Pusing ga kepala babi imut macam saya ini ketika Ramot menyatakan itu setelah kami sepakat akan menikah. Saya tahu Ramot akan menjalani tugas yang Tuhan taruh dalam hidupnya tapi bokkk. Ya mbok jangan 2 juta. 20 saja gitu. Buat kios sederhana di Pasar + jadi amang-amang pemilik kontrakan keliling narikin uang sewa atau jadi apalah gitu sebagaimana kodratnya ala pria batak (bahkan Hotman Paris pengacara itupun pengontrak to??) Batak macam apa yang mau kasi makan 2 juta orang? Yahudi ada. Musa namanya. Okeh lanjut.

Jadi per Januari 2017 saya 100% resmi pekerja lepas. Sebelumnya di 2012 saya selalu terdaftar di perusahaan tertentu sehingga lapor pajaknya gampang. 1770ss seperti nasib pekerja recehan pada umumnya. Maret 2017 saya asyik jual daring RumahSteril sampai tahu-tahu Maret 2018. Kelabakanlah saya bagaimana harus lapor pajak. Yesus saja bayar pajak dan perpuluhan. Gak mau kalah dong. Lapor pajak aja. Lha wong isine Nol kabeh sambil nyanyi ‘Harta yang paling berhargaaaa adalah keluargaaa‘.

Nah sepanjang prosesi kematian Bapak Tengah, saya konsultasi dengan Stevanus dari Aswie Partner Group untuk membahas lapor pajak di kalangan pekerja lepas. Saya sudah tahu form yang saya perlu isi 1770. Namun saya bingung harus ke mana.

Jadilah saya tanya secara detail kepada Mas Stevanus ini. Bagaimana bisa kenal dengan Mas Stevanus? Sederhana. Saya kan selebhram papan halma di level rakyat perkucingan jelata se-Indonesia Raya ya. Saya tanyalah siapa yang bisa saya kasi konsultasi. Sadar butuh info gratisan, saya bertekad itu tidak akan menyita total waktu 1 jam saja.

Begitu saya membuka e-filling, seketika itu saya berharap ini bisa seperti e-flirting : geser kiri atau kanan. Pada kenyataannya tidak sesederhana itu. Mungkin kalau Yesus harus bayar pajak dengan model sekarang, Yudas bukan melengos soal mbayarnya tapi soal isiannya. Contoh sederhana istilah yang digunakan adalah PEREDARAN bukan PENDAPATAN. Makkk. Di situ mata saya mulai berkunang-kunang

Nah untunglah salah satu kantor Pajak di Jawa Tengah dengan inisiatif yang layak diacungi jempol membuat video tutorial Youtube. Puji Tuhan lagunya Jubi ng. Bayangkan jika lagu latar Nella Kharisma, kolom komentar video tersebut pasti sibuk membahas mengapa bukan lagu yang dinyanyikan Via Vallen.

Sadar bahwa saya itu lemah di angka, setara kelemahannya dengan melihat martabak manis tidak ada yang makan, maka saya memilih mengganggu Ramot untuk isi. Yoi kami bermain peran. Ramot bagian isi, saya tinggal omong. Langkah-langkah yang diikuti plek ketiplek dengan yang di video.

1x mencoba isi sendiri langsung menyerah

Ada bedanya ding. Di mata pajak, kami adalah pasangan suami istri yang memilih pisah. Iya lah pisah. Gabung pajak itu ribet. Harus tutup akun pajak Ramot di Pekanbaru, saya tutup di Pasar Minggu lalu kami buka bersama. Et dah. Mahalan tiket terbangnya cuy daripada mbayar pajaknya.

Jadi ketika status memilih terpisah, maka saya perlu menyalin kembali isi SPT yang Ramot sudah laporkan ke kolom-kolom tersebut. Lalu ada pula surat pernyataan perlu diunggah komplit dengan pendapatan toko daring. Buahahaha. Ingin sekali saya bilang kepada petugas pajak bahwa hanya Tuhan yang tahu berapa sebenarnya penghasilan saya sebagai pekerja lepas. Pokoke cukup.

Suatu ketika dari perjalanan pulang

Ramot : Toko RumahSteril sebulan penjualannya berapa?

Vivi : Ga tahu

Ramot : Barang paling laku di toko RumahSteril apa?

Vivi : Ga tahu

Ramot : Total biaya operasional sebulan RumahSteril berapa?

Vivi : Ga tahu. Coba tanya yang gw tahu gitu keqqq. Berapa utang RumahSteril gitu.

Ramot : itu mah ga usah ditanya. Kan tinggal baca di Google Sheet.

Huh. Namun itu kenyataannya. Saya benci angka. Sebenci saya dengan kutu dan cacing di hewan saya. Ramot tadinya berharap bahwa saya berubah menjadi pencatat detil seperti dirinya. Tentu saja sebuah kemustahilan. Itu memang bukan kekuatan saya.

Daripada saya repot berjam-jam memandangi e-filling dan berulang kali salah isi angka, Ramot menyelesaikannya hanya dalam waktu 50 menit dengan saya sebagai narasumber yang cuma bisa jawab ‘em ga tahu. Bisa dikira-kira aja gak?

pake joki sajalah

Pelajaran apa yang bisa saya petik dari terlambat lapor pajak ini? Saya perlu rutin isi di djponline tersebut setiap bulannya. Tentu konsekuensinya toko daring perlu tercatat jelas berapa total transaksi, biaya operasional dan sebagainya. Itu sebuah tantangan besar sebenarnya buat saya tapi bukankah hidup di bumi ini cuma seputar belajar haha

Nah sekarang saya menghadapi hal baru. Honor saya sebagai pekerja lepas belum dibayarkan pajak. Jreng jreng. Itu hal baru buat saya. Mesti belajar lagi alias baca ulang chat saya dengan Mas Stevanus hahaha. Saya sekarang sudah bertobat sudah siap berusaha melek pajak antisipasi jadi demotipator sakses yang duitnya dapet dari orang-orang yang butuh denger kenyataan pahit muahahahah.

untuk yang lupa efin
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s