Tips Memilih Sekolah Sesuai Realita

2018 : Abad 21. Dekade kedua. Tidak ada perubahan yang cukup signifikan dengan pemikiran orang Indonesia. Masih menganggap sekolah bagus itu dari nilai Ujian Nasional yang diperoleh & masih menganggap bahwa insinyur tambang sumber daya alam itu titian tangga menuju kaya raya.

Ketika Mas Bukik mengumumkan soal buku terbarunya, saya begitu bersemangat untuk membaca. Saya sudah baca buku karya Mas Bukik sebelumnya. Namun banyak peristiwa hidup yang terjadi sehingga saya baru sempat sekarang mengulas.

Seperti biasa buku Mas Bukik dan teman-teman ini muncul dari ide yang menggelitik: Apakah sekolah yang bagus itu?

Begini, saya paham betul saya tidak punya anak sehingga saya selalu bisa dihantam balik dengan pernyataan ‘situ enak ga punya anak‘. Saya cuma mau memicu hal yang sederhana:

  • Apakah kalian mengeluhkan anak-anak diberi beban PR yang terlalu banyak?
  • Apakah kalian sebenarnya diam-diam menyadari bahwa apa yang dicekoki anak-anak kalian itu nyaris tidak aplikatif untuk kehidupan sehari-hari?
  • Apa kalian masih ingat begitu lulus kalian tergagap-gagap masuk dunia kerja karena bertahun-tahun waktu kalian belajar ternyata tidak mengajarkan yang sesungguhnya kepada kalian?

Nah sekedar menggambarkan, teknologi era 1978 sampai 1998 itu jauh kalah lebih cepat daripada 1998 ke 2018. Mau bukti? Pakai contoh musik saja ya tidak perlu sampai ke teknologi lain. Di rentang 1978-1998 perkembangan mendengarkan musik sebatas kaset, baru 1990an mulai CD. Itupun di 1998 masih banyak penjual kaset. Pada beli NOW 3, Now 4 dst kan?

Bagaimana 1998-2018? Dari kaset/cd bergeser ke MP3 unduh bajakan diputar di Winamp, bergeser ke ipod, geser ke Youtube, geser ke Spotify.

Bagaimana pendidikan Indonesia? Sepanjang 1978-2018 alias 40 tahun masih berkutat hapalan, kerjakan soal, pergi LES. Kalian tentu sebenarnya masih ingat kelelahan harus menghapal berbagai istilah yang sebenarnya ‘ini kalau ga gara-gara demi naik kelas ga akan gw jalanin‘. Nah terus jika sudah tahu seperti itu, mengapa mengulangi kesalahan yang sama pada sekolah anak-anak anda?

Yak betul. Tentu saja karena sebenarnya manusia cenderung hanya mengulangi sejarah tanpa berusaha berubah selama mereka tidak mau mengkoreksi diri bahwa ada yang salah. Ada bagian buku ini yang saya suka:

Bangsa Indonesia itu sebenarnya jago kandang. Ada tenaga kerja asing masuk Indonesia, takut. Bahwa kebanyakan di masa depan semua pekerjaan administratif akan digantikan robot, takut. Memahami komunisme, takut. Namun gambar anak kecil di atas menarik. Daripada menjadi serba takut, mengapa tidak berani untuk mencari tahu dan menaklukan?

Tidak perlu takut buku ini hanya semata mencekoki layaknya guru menulis penuh di papan tulis. Ada halaman pindai sehingga anda bisa lihat infografis tentang topik yang dibicarakan.

pindai kode

Di halaman belakang juga ada lembar isian sehingga anda bisa melihat seberapa jauh harapan anda tentang sekolah untuk anak dengan kondisi di kota anda tinggal. Lembar-lembar isian ini mengingatkan saya kepada buku karya Mas Bukik sebelumnya. Jika penasaran seperti apa memilih sekolah bisa lihat juga websitenya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s