Bagaimanapun Cara Nikahnya, Ujungnya Begitu-begitu Saja

Tulisan ini diketik ketika waktu menunjukkan pukul 3.13. Mungkin ini adalah rekor tulisan terpagi yang pernah saya buat mengingat saya cenderung menulis sebagai relaksasi setelah seluruh pekerjaan selesai. Akhir-akhir ini seiring jumlah uban saya menyusul dengan digit usia, waktu untuk menulis menjadi sebuah kemewahan. Kemampuan saya untuk kembali tidur pulas setelah terbangun juga akhir-akhir ini berkurang jadi ya sudah awal hari ini dimulai dengan kegiatan tidak berguna saja.

Seperti pada umumnya di kota besar Indonesia, bulan antara selesainya Idul Fitri sampai menjelang Idul Adha adalah masa yang mana undangan pernikahan datang silih berganti. Saya jadi tergoda untuk menulis soal pernikahan sekalipun tentu saja tulisan saya ini tidak bisa saya bagikan kepada pasangan baru tersebut. Biarlah mereka menikmati indahnya saja dulu sambil disapa kenyataan hidup berupa cicilan. He.. he..

Sebagai awalan, tulisan saya yang ceplas ceplos ini coba ga usah dimasukkan dalam hati. Kalaupun itu yang sedang terjadi, di dunia media sosial meraja, lanjutkan saja tulisan atau tayangan anda yang menunjukkan bahwa anda termasuk rumah tangga anda begitu berbahagia dan baik-baik saja. Padahal menangis dalam hati tuh kalau pas sendiri. He.. he.. he..

2 Jalan

Buat saya, arah masuk ke lembaga yang paling dipuja di Indonesia ini cuma dari 2 jalan: perjodohan dan percintaan. Mau dari mana jalannya, ujung-ujungnya kita semua akan menuju ke pernikahan yang begitu-gitu saja, menggelinding dari hari ke hari memutuskan hari ini bagaimana mengatur uang dan mengatur harapan.

Saya punya teori bahwa pernikahan yang dijalani kita saat ini hanyalah pengulangan cerita dari kisah pernikahan generasi yang kita kenal sebelumnya. Loh lalu apakah jika orang tua bercerai, maka pernikahan kita cenderung akan berakhir dengan perceraian? Hmm nanti dulu. Saya kan bilang di atas, pernikahan itu cuma soal mengatur uang dan harapan koq.

Mari kita balik dulu ke garis depan. Jalan pernikahan antara perjodohan atau percintaan. Konsep pernikahan adalah hasil percintaan sebenarnya baru terjadi di beberapa terakhir ini, sebelumnya pernikahan semata-mata soal bertahan hidup dan melanjutkan keturunan. Maka saya pribadi bukanlah  orang yang anti dengan perjodohan apapun itu bentuknya. Ada yang karena dasar agama, ada yang dicarikan orang tua (Aziz Ansari menulis cerita pernikahan orang tuanya dengan baik di sini), ada yang hasil perhitungan bisnis gabungan perusahaan keluarga (atau hasil keputusan politik; di Indonesia praktik ini masih dilakukan koq).

Jatuh cinta dan dekat selama bertahun-tahun baru kemudian menikah justru adalah konsep baru dan didukung oleh novel/film romantis. Masing-masing pilihan tidak menjamin pernikahan yang bahagia. Ingat ini:

manusia berencana, Tuhan bercanda.

Tidak ada jaminan dari mengenal bertahun-tahun baru kemudian menikah menjamin rumah tangganya baik-baik saja. Saya pernah menemukan seorang ibu yang dengan penuh kepanikan menolak keputusan anaknya untuk menikahi orang yang baru ibu ini kenal beberapa bulan dengan alasan terlalu cepat sebaiknya kenal dulu beberapa tahun seperti saudara-saudaranya yang lain. Toh akhirnya sama saja. Pernikahan anak-anaknya yang diawali dengan jatuh cinta dengan hubungan menahun berujung dengan kegiatan celup celup tidak resmi. Nah biasanya kubu perjodohan bersorak soal ini. Dek sebentar dulu, sekalipun kamu bisa berbangga diri sebagai paling yang lurus masuk ke pernikahan, belum tentu menjamin kamu juga tidak berakhir celap celup buang di luar loh.  Apapun jalannya, akan selalu ada malam-malam sepi kamu makan ati karena usaha maksimalmu dengan darah dan air mata dalam rumah tangga dianggap sebuah kewajaran.

Kecele itu Pasti

Dua kubu ini seolah-olah merasa memilih langkah terbaik untuk memulai sebuah pernikahan bagai pendukung Jokowi dan Prabowo di tahun 2014. Mau itu jalur perjodohan ataupun jalur percintaan, karakter manusia yang sesungguhnya baru terkupas setelah ia sendiri. Jadi kecele di masa pernikahan adalah hal lumrah. Tidak perlu meratapi bahwa anda menikahi orang yang salah. Kita pasti kecele. Tulisan ini mungkin bisa menambahkan. Ingat, manusia berencana, Tuhan bercanda.

Pernikahan seharusnya tidak perlu disambut terlewat optimis jika sudah paham bahwa kita semua hanyalah mengulang pernikahan dari generasi yang sebelumnya. Tidak perlu sibuk menyalahkan gawai atau apapun. Di tiap generasi, selalu ada benda yang menjadi candu sehingga mendekatkan yang jauh dan menjauhkan yang dekat. Jangan diartikan mentah bahwa karena orang tua bercerai maka kamu hanya mengulangi hal yang sama atau jika seluruh pria dewasa yang membesarkanmu (kakek, paman, ayah) berselingkuh maka kamu akan berakhir mengalami hal tersebut. Jika kecerdasan intrapersonal kamu dilatih terus menerus sehingga bagus sikit, kamu bisa mengantisipasi untuk tidak jatuh di kesalahan yang sama #tsah.

Nah Ini yang Gampang Ditulis Tidak Gampang Dijalani:

Saya serius soal kecerdasan intrapersonal ini. Tidak semua orang cukup cerdas di bagian ini. Padahal jika anda cukup tajam mengenali kebutuhan anda sendiri, maka pelan-pelan kita bisa belajar agar tidak perlu melakukan kesalahan yang sama dari generasi yang sebelumnya. Hal yang amburadul adalah kita cenderung enggan melihat apa kekurangan dari pernikahan orang tua ataupun kerabat terdekat yang kehidupan nikahnya sering kita lihat. Entah karena takut kualat atau kecenderungan kita melihat segala sesuatu sebagai hal yang normal.

Kecerdasan intrapersonal ini sering dianggap sebuah kemampuan terberi yang tidak bisa diasah. Padahal awal hidup berbahagia di dunia yang gampang berubah ini ya berdamai dengan diri sendiri dulu. Apalagi di bangsa yang menganggap cerdas itu pandai berhitung dan bagus nilai akademis, bagian ini seringkali cuma melongo. Berujung hanya bisa menyalahkan orang lain:

Gue selingkuh, soalnya dia ga mau diajak berkelamin padahal kan dosa ya kalau istri ga mau melaksanakan kewajibannya?

Saya dengan kalem menyambar : di dunia ini manusia cuma menghasilkan 2 perilaku ketika duit cekak, libido makin tinggi atau napsu makin layu. Situ sudah cukup kasi uang belum? sudah cukup jadi pendengar yang baik belum? Sudah berusaha bantu-bantu tanpa disuruh belum? Oh belum. Masih feodal merasa sebagai pencari nafkah, ongkang-ongkang minta semua dilayani termasuk urusan biologis. Dek tak kasitahu ya, Tuhan menciptakan tangan untuk manusia salah satunya ya bisa digunakan untuk swalayan. Paham?

Ih itu kan dosa.

Ya itu solusi paling realistis daripada situ celup sana sini tanpa merasa mau merefleksikan diri bahwa situ ga sempurna-sempurna amat sih say.

Di sinilah saya merasa perlu bahwa pasangan dari manapun jalur pendaftaran nikahnya, perlu Agile. Memang pendengung Agile alias Tangkas sering melompat langsung ke Agile Parenting (pengasuhan anak dengan tangkas) padahal ada penerapan Agile ini membantu untuk pasangan yang rata-rata kecerdasan intrapersonalnya pas-pasan menemukan titik temu sama-sama enak sama-sama menang. Soal Agile Marriage kapan-kapan saja ya.

Lanjuttt, sayangnya kan apapun jalurnya, pasangan langsung tancap gas untuk memproduksi anak. Ganjalan di hati seringkali diselesaikan dengan telan saja atau kemukakan dengan membuat satu pihak lainnya terpaksa mengalah. Begitu saja terus sampai pelan-pelan pernikahan ini menjadi pola yang sama seperti generasi sebelumnya: membesarkan anak dan bertahan hidup bersama. Gak lebih gak kurang.

Soal Atur Uang

Kecerdasan intrapersonal inilah yang membantu anda dalam menjalani pernikahan di bagian mengatur harapan. Soal mengatur uang, sudahlah ikhlas saja, manusia berusaha berlogika dan asyik analisa ini itu, ujung-ujungnya pola kelola uang mereka hanya mengadaptasi dari 5 orang terdekat koq. Jadi kalau orang terdekat anda terbiasa tidak pernah transparan tentang berapa uang yang diam-diam anda transfer ke keluarga tanpa setahu pasangan, ya paling anda juga modelnya begitu juga. Ehe.. ehe.. ehe.. Kecuali ada di satu titik anda menyadari bahwa tindakan tersebut tidak tepat, baru bisa berubah (nah ini kalau kecerdasan intrapersonalnya tidak pernah dilatih ya ga akan pernah ada lampu menyala di kepala)

Soal Atur Harapan

Kembali ke mengatur harapan. Seringkali ketika ketika menuntut pasangan kita untuk hal sepele dan tidak terjadi, kita sering berharap dengan komentar yang panjang lebar, pasangan kita akan berubah. Pada kenyataannya tidak. Orang lain bahkan orang yang tidur dengan kita, hanya berubah ketika di dalamnya ada refleksi mana perilaku yang perlu dihentikan mana yang baik untuk dilanjutkan. Hal yang bisa kita lakukan adalah mengatur harapan. Dengan begitu, di dalam kita ini jauh lebih merasa damai.

Contoh kasus : kita paham bahwa pasangan kita cenderung selalu butuh menang dalam perdebatan apapun itu topiknya dari soal bubur diaduk sampai soal anak atau cenderung memiliki kebutuhan waktu menyendiri sampai dini hari. Jika kita terlalu berharap bahwa dia akan berubah, kita cenderung akan frustasi dan itu terceplos ketika kita sedang berbicara dengannya. Namun jika kita pelan-pelan belajar mengatur harapan sampai ke garis terendah, kita bisa jauh tenang menjalani hari-hari. Hidup cuma satu kali. Masih banyak hal yang bisa membuat kita bahagia damai sejahtera, selain menuntut pasangan ini itu.

Jadi selamat menempuh hidup baru yang hanya seputar mengatur uang dan harapan terhadap pasangan. Dengan mengatur harapan, kalian para pria bisa tenang menjalani hidup bahwa kalian sebenarnya gak perkasa-perkasa amat, karena 70% perempuan pura-pura orgasme di depan kalian. Muahahaha.

NB: Saya juga sedang mengatur harapan koq ketika menulis ini. Dari yang berharap akhir pekan akan bisa disambut dalam damai dengan segelas kopi dan sebuah tulisan baru yag dihasilkan soal gangguan psikologis, berganti ke sebentar menghadiri pernikahan entah siapa pokoknya wajib datang, berganti lagi ke mengikuti seluruh rangkaian acara dan tak lupa beli benda-benda keperluan acara dengan budget harga tertentu di masa penghasilan yang tak tentu. Mengatur harapan itu seperti latihan olahraga. Sudah jalani saja namanya juga hidup

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s