Ultah ke 34 Ramot

Jarak dari ulang tahun 33 ke 34 buat saya pribadi penuh warna. Ramot ulang tahun ke-33 dengan kondisi kami mencari tahu ada apa dengan sakit Ramot. Saya sebenarnya sudah menduga ketika itu bahwa itu adalah psikosomatis cuma kan bagi orang non Psikologi, alangkah baiknya jika sebuah penyakit terukur.

1 bulan setelah Ramot ulang tahun, saya menyampaikan niat saya untuk meninggalkan Ramot di bulan September 2018, alias bulan ini. Saya paham tidak ada waktu yang tepat untuk menyampaikan rencana perpisahan tapi setidaknya kami berdua sama-sama orang dewasa yang sudah tidak lagi berteriak satu sama lain ketika ada selisih pendapat seperti kami dulu kepala 20an. Mungkin karena saya menyampaikannya sebelum konser NAIF haha.

Okeh, aslinya ketika kami kepala 20an, yang terjadi adalah Ramot menyampaikan pendapat, saya diam lalu beberapa hari kemudian saya membalas Ramot dengan kalimat tajam menukik (ini ucapan apa gerakan bulu tangkis sih). Baru di usia 30an memang saya bisa membalas ucapan Ramot dengan dingin dan santai bukan dengan ketus yang seringkali memancing talenta Ramot untuk mendebatkan segalanya muncul dengan penuh gelora. Mungkin karena saya melihat Ramot sekarang ini sudah jauh tidak sehipokrit dulu. Kalau sekarang ada yang merasa kalimat-kalimat saya afgan bisa jadi karena radar saya muak dengan hipokrit. Dengan orang yang berbohong saya cuma mewek, tapi dengan hipokrit, kan ku gas sampai engkau berlutut di sudut kerlingku kawan (lah koq jadi lagu)

Sebenarnya sejak bersama dengan Ramot, dari tahun ke tahun saya bisa membelikan sesuatu untuk Ramot. Biasanya sih ngentit uang dari Ramot juga sih. Gimana dong jualan gue cuma buat bayar gaji pegawai dan cicilan. Ehe. Namun kali ini sejak Ramot memilih saya daripada P, saya tidak bisa leluasa melakukan manuver keuangan haha. Jadilah untuk Ramot yang merayakan usianya ke-34 tahun, saya menulis sebuah kartu ucapan istimewa, bukan kata-kata sekedar gunting tempel dari mesin pencari.

Di usia 34 ini Ramot mengalami banyak hal yang membuat dia menjadi orang yang tidak pernah saya pikirkan. Dia masih suka lupa mengerjakan kegiatan rutin harian seperti memanaskan mobil dan mengeluarkan ayam setelah bermain DOTA 2, tapi hal remeh temeh tersebut sudah saya mengerti bahwa kegiatan rutin harian bukanlah Ramot kecuali itu soal:

  • Nonton video ulasan Youtube
  • Melaksanakan olahraga el (baca DOTA 2 atau Mobile Legend)

Baiklah mari ke poin-poin yang mungkin saat ini tidak membuat kami mendadak kaya raya dan segera melunasi utang-utang kami tapi kata-kata Ramot ini sering menjadi pengingat saya ketika malam-malam saya sendirian dan tidak menangis (baca: gangguan depresif kelas bulu saya kambuh).

Nilai Saja Programnya

Baiklah ini topik politik dulu ya. Untuk pertama kalinya dalam hidup nama lengkap saya dipanggil oleh awak pesawat karena saya asyik menonton melihat calon wakil presiden Jokowi. Lalu saya juga cerita kepada Ramot tentang kubu sebelah yang mulai mengangkat soal kerusuhan 98 lagi. Jika masing-masing bermain dengan pendengung masing-masing dan arahan rilis media yang menjatuhkan satu sama lain, sama aja bohong dong! Lalu Ramot dengan tenang bilang : ‘mereka sama-sama tidak akan mengakui tim pendengung itu digerakkan oleh mereka. Abaikan pendengungnya, lihat saja programnya. Mana yang masuk akal itu yang dipilih. Gak masuk akal, gak usah dipilih’ Hmm saya yang notabene mahluk pengambil keputusan dengan perasaan jadi tercerahkan. Terserah mau seperti apa hembusan opini yang dibungkus dalam bentuk berita, cukup selesaikan dengan program

Tidak Ada Gajian, Ya Dibayar dengan Iman

Kalau ini diucapkan oleh jemaat gereja, mungkin saya tidak heran. Wajar. Namun diucapkan Ramot rasanya saya haru-haru bangga. Tentu angka-angka tagihan itu terpampang nyata tapi setidaknya saya tidak menatapnya sendirian.

Toh Sudah Terjadi Ya Disyukuri

Akhir Agustus saya mengalami kekecewaan beruntun oleh orang-orang yang beda perkataan dari tindakan (dari yang bilangnya tidak ada pemijat ternyata merasa jijik datang ke Rumah Steril, sampai ke yang mau kerja lalu menghilang ketika Iduladha, dan …ga usah disebutin lah kalau yang terakhir ini). Saya sedikit terpukul menatap sofabed yang saya beli untuk calon staf supaya dia nyaman bekerja tapi malah pergi tanpa kabar berita. Namun Ramot benar: toh sudah ada ya dipakai saja. Sebenarnya perasaan kecele ini sama ketika saya meleset melihat orang yang kami rekrut untuk Peentar. Terlihat menjanjikan tapi ternyata mengecewakan. Saya sempat kemrungsung kepada Tuhan, mengapa koq saya kecolongan. Balik lagi saya ingat kata-kata Ramot, ‘toh sudah terjadi ya disyukuri. Akan ada hikmahnya nanti

34 usianya sekarang. Saya tahu orang-orang yang pernah bekerja bersama Ramot ada yang masih menyimpan dendam kesumat dan kekesalan tak terperi karena merasa Ramot kurang itu, Ramot harusnya buat begini.

34 dan saya tidak pernah cemburu kepada Ramot. Saya hanya iri kepada Ramot. Setiap pagi saya bangun dan menyelesaikan semua tugas sampai larut malam tanpa henti dan tetap saja pendapatan saya jauh di bawah Ramot. Semua waktu promo, mengerjakan administrasi, menghubungi sana sini terasa sia sia.

Saya tahu Ramot telah menunjukkan cermin yang tidak saya sadari bahwa saya memiliki keminderan dalam berprestasi dan dalam hubungan suami istri tapi kan orang yang setipe berkumpul bersama cuy. Hehehe.

Saya tidak tahu akan kemana kehidupan kami berlanjut karena hampir setiap 6 bulan kami pindah haluan hidup tapi yang saya tahu pasti saya punya sahabat sejati untuk kolaborasi tingkat tinggi. (Iya kalimat terakhir itu gombalan demi rima kalimat saja; ga ada tulus-tulusnya dari dalam hati)

P1100095

2 thoughts on “Ultah ke 34 Ramot

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s