Belajar Dandan Paripurna bersama Dina

Membahas soal tata rias perlu dipahami bahwa landasan saya peduli penampilan adalah untuk apresiasi salah satu ciptaan Tuhan yang adalah diri sendiri. Ibu saya selalu bilang : satu-satunya yang bisa muji kamu ya kamu sendiri, ya jadi buatlah diri kamu layak kamu puji. Mungkin itu sebabnya saya cenderung cuek dengan opini orang. Kalau saya nyaman dengan lipstik metalik ya ga urus bagaimana orang melihat saya. Haha.

Saya sudah lama terlepas ikatan dari ayat-ayat bahwa perempuan lebih cantik jika berpenampilan sederhana tidak membuat pria birahi ataupun pemahaman bahwa perempuan cantik itu dari ibadahnya. Et dah. Ambil sana surganya dah. Gerah juga sebelahan di surga sama polisi moral.

Baiklah lanjuttt. Saya sebenarnya belajar dandan lebih dari coba-coba sendiri. Maka ketika 2006 saya sudah mulai bekerja hasil dandan cuma seperti ini. Saya sengaja menggunakan foto paspor karena buat saya foto paspor itu apa adanya. Seusaha-usahanya dandan ke kantor Imigrasi, tanpa arahan dari petugas, hasil prihatin itu sudah biasa:

WhatsApp Image 2018-09-22 at 14.19.13
hasil dandan ke kantor Imigrasi tahun 2006

Saya itu jadi fokus belajar dandan karena peristiwa sederhana. Saya kena cacar di pertengahan 2009 dan satu-satunya hiburan saya cuma Youtube. Iseng menggelinding melihat tutorial makeup. Waktu itu Sarah Victor. Dia sendiri sekarang sudah tidak aktif buat video tutorial dandan lagi mungkin karena uang tak seberapa dibanding salon kecantikan dia yang sekarang lengkap dengan layanan botox dan sulam alis pemirsa. Tentu saja di Amerika Serikat. Masa di Cinangka Depok sini.

Di masa itu akhir 2009, sebenarnya saya merasa kesal karena bedak yang saya gunakan cenderung memutih dan menggosong setelahnya. Ketika itu sumber referensi saya cuma mbak-mbak penjual di toko kosmetik di Pasar Minggu (yoi di dalam pasarnya, naik tangga 1 kali. Komplit). Saya baru paham kemudian istilah yang saya alami adalah oksidasi. Baiklah, belajar dari Youtube hanya membuat saya frustasi karena kebutuhan makeupnya semua dari luar negeri dengan harga yang menakjubkan (buat saya sih, kaum menengah ngehe Pasar Minggu yang akhirnya pindah ke Depok).

Nah selepas 2009, saya memiliki banyak peristiwa dalam hidup yang mana fokus saya jadi bukan dandan (alias agak terlupa sendiri). Peristiwa apa yang terjadi di selepas 2010 kurang lebih bisa dibaca di tulisan ini. Ada peristiwa aneh yang saya baru sadari 2018 ini. Ternyata di tahun 2011 saya mengurus paspor, berlaku sampai 2016 dan saya sama sekali tidak menggunakannya. Saya juga garuk-garuk kepala ke mana saya mau pergi sampai urus paspor segala? WhatsApp Image 2018-09-22 at 14.20.04

Ini saya juga dandan loh tapi ya gitu aja hasilnya. Terhempas di helm motor kayanya. Saya yakin di masa ini saya kemana-mana sudah memilih naik motor daripada naik transportasi umum.

Terima kasih kepada Twitter, di tahun 2014 saya jadi tahu soal Make Over. Masa ini saya belum punya akun Instagram. Nonton Youtube pun tidak berani, karena awal hidup di Jalan Kedondong Depok koneksi interenet yang ada cuma Bolt. Jadi benar-benar menghemat paket.

Di tahun 2014 saya pun mengikuti kelas Make Over cuma ternyata tetap belum cukup ilmu untuk benar-benar bisa dandan dengan ajeg. Saya itu murid yang kalau niat ama pelajarannya akan menghabiskan waktu untuk belajar sendiri soal itu. Maka selepas kelas itu saya tetap belajar sendiri cuma berasa ada yang kurang.

Twitter, terlepas dari ladang perang anak ahensi untuk membentuk opini, masih ada orang-orang yang membuat saya belajar menyelami pemikiran orang lain termasuk @dinadimu. Awalnya saya mengikuti @dinadimu ini karena berbagi info soal makanan loh. Ga ada soal dandan-dandanan. Sampai suatu ketika @dinadimu mengkicaukan soal belajar dandan privat. Bukan gue namanya kalau ga kepedean nanya harga. DM lah. Nah ketika itu saya juga cukup riweuh paska Ramot tidak kerja penuh waktu di Peentar.

Belajar dandannya di rumah beliau (hahaha sengaja biar kelihatan sepuh hahaha). Lumayan saya jadi berpetualang ke daerah Jakarta Timur. Ini perjalanan yang memang saya butuhkan karena sudah lama saya cuma berputar-putar sekitar Beji Depok cuma untuk ke Jnt-Tukang Ayam-Wahana. Kasihan kan haha. Hasil saya berlatih :

WhatsApp Image 2018-09-22 at 13.53.38

Sebuah pencerahan sekaligus kenyataan alis paripurna itu sedikit banyak membantu saya terlihat lebih muda tanpa oplas. Awalnya gampang ga? Tentu tidak. Kesimpulan saya adalah saya perlu lebih pelan-pelan ga usah gesrek-gesrek ingin cepat. Saya juga jadi paham kunci rona pipi terlihat maksimal itu sebenarnya bagaimana, sambil terus bersabar pada diri sendiri untuk berlatih menggambar alis ahahaha.

Di sela kelas kami selang-seling membahas soal alas bedak, berganti ke buzzer, berganti ke keributan selebtwit berganti ke trik shading. Oh soal lipatan dagu sudahlah saya nyerah. Belajar olahraga dan mengurangi gula-gula saja lah ga usah shedang shading. 3 sesi ini harusnya cuma jeda 2-3 hari tapi yang namanya pengacara (pengangguran banyak acara), jadwal pun mundur. Nah sebagai murid yang budiman (halah..), jeda tidak ada kelas saya berlatih sendiri. Sangking niatnya, saya lebih sibuk foto diri sendiri di kawinan orang. Foto sama mantennya sendiri saya ga ingat. Hahaha

WhatsApp Image 2018-09-22 at 13.53.37

Latihan tersebut ada yang saya pakai untuk pergi ke kantor Imigrasi, ada yang ke resepsi ada yang sekedar berjalan sendiri ke pameran Yayoi Kusama (cerita soal ini nyusul ya). Hasil dandan di paspor terbaru saya:

WhatsApp Image 2018-09-22 at 14.20.52

Buat saya sih hasilnya lebih menyegarkan. Hasil pelajaran dengan @dinadimu yang tak kalah penting adalah penasaran saya untuk mencampur alas bedak menuju warna yang lebih pas. Oh ya selama belajar dengan @dinadimu memang saya pakai foundation racikannya. Sementara di rumah pakai apa yang ada. Kadang foundation kadang ya si Pixy. Karena kelas ini pula saya bisa menggapai Juvia. Memang hidup itu lucu, keinginan yang tidak saya minta secara khusus kepada Tuhan malah dapat duluan. Haha.

Oh ya @dinadimu ini memang perias wajah alias makeup artist untuk acara apa saja. Nah soal harga per sesi silakan DM @dinadimu di Instagram atau di Twitter ya biar akrab. Percayalah harganya masuk akal. Mungkin menjadi ga tahu diri sudah bayar segitu, saya iya iya aja lagi nyobain pempek lah, makan asinan lah di sela sela kelas. Emang anaknya mauan banget. Eh tapi jangan diharapkan kelas kalian nanti dapat cemilan ya. Hahaha.

Terakhir, selain saya ada 1 murid privat juga yang ikut usia SMP. Mungkin warganet cenderung akan mencibir, ‘genit amat, dulu gue umur segitu bedakan muka pake Shower to Shower‘ Em ya hanya karena kamu menjalani hidup seperti itu, ga berarti seluruh dunia harus sama kan? Saya percaya apa yang nyaman dia lakukan untuk apresiasi dirinya saat ini jauh lebih membuat dia kuat menjalani masa sebagai perempuan beranjak dewasa.

Advertisements

One thought on “Belajar Dandan Paripurna bersama Dina

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s