Penyadaran melalui Filosofi Teras

Om Piring menulis Filosofi Teras bukan terpicu kesuksesan Dewi Lestari membuat buku Filosofi Kopinya naik ke layar perak dua kali. Saya jadi yakin membeli buku ini karena kalimat tulisan biru di halaman pertama ini:

(sejujurnya gue serba salah harus manggil mas, om, apa pak)

Apa yang Om Piring tulis soal dia mengalami Major Depressive Disorder membuat saya teringat bahwa saya sempat di situasi yang saya alami yaitu High Function Depression. Saya memang tidak berangkat ke psikolog. Namun saya sadar ketika beberapa bulan yang lalu beberapa kali saya menangis tersedu-sedu tanpa bisa distop, tanpa ada pemicu. Saya belum pernah menulis secara khusus soal ini. Maju mundur karena percayalah tidak mudah mengakui ada yang salah dengan kita. Jadi topik soal gangguan psikologis ditunda kembali dalam waktu yang tidak ditentukan ya. 

Kembali ke buku Filosofi Teras. Buku ini selesai saya baca 1 hari. Kebetulan saya baru kembali dari liburan kaum BPJS jadi Hari Jumat tersebut saya tetapkan sebagai hari agak santai. Dari lubuk hati terdalam saya berterima kasih kepada Om Pir yang telah membawa saya ke nostalgia Filsafat.

Jika anda kuliah di Psikologi, anda tahu Filsafat selalu mengintip sebagai mata kuliah di tiap semester. Semester pertama dan kedua, saya selalu ketakutan masuk ruang kuliah tersebut. Dosennya baik tapi otak saya tidak paham. Okelah sebenarnya banyak mata kuliah yang saya tidak paham. Saya baru mengerti bertahun-tahun kemudian, cara belajar saya berbeda.

Saya tipe orang yang baru belajar kalau memang ada urusannya sama saya. Mungkin itu sebabnya di tahun 2005 saya tekun belajar Filsafat Manusia, bukan karena dosennya Mas Doni Gahral Adian, tapi karena saya baru saja patah hati. ihik. Itulah sebabnya saya baru benar-benar mempelajari Psikologi Belajar justru ketika saya jadi guru untuk remaja berkebutuhan khusus.

Nah saya ini tipe ngeluh dulu di awal, ikhlas di belakang. Jadi saya kesel dulu dengan Filsafat yang selalu mengganjar saya dengan C melulu, baru setelah kesekian kalinya belajar, saya bisa agak menikmati Filsafat. 

Saya ingat ketika saya yang terburu-buru menyelesaikan kuliah 7 semester karena tidak punya uang lagi, berangkat ke rumah dosen lalu duduk di sofa beliau dengan penuh peluh keringat sambil menyodorkan skripsi untuk diuji keesokan harinya lalu ditanya,

Vi, sepanjang kamu kuliah di Psikologi, ada gak pertanyaan yang kamu belum terjawab sebelum kita sidang besok?

Saya dengan sigap menjawab, ‘Ada Mas! Mas, kenapa sih kita kuliah Psikologi perlu belajar Filsafat tiap semester? ‘

Dosen saya ini, Mas Budi Hartono, dengan bijak menjawab, ‘Karena dengan Filsafat, ketika menjadi psikolog kamu bisa belajar berempati dan menyelami jalan pikiran orang mau itu yang model Sartre atau Nietzsche sekalipun

Ketika mendengar itu saya agak tertohok sekaligus sedih. Saya yang berangan-angan menjadi psikolog sejak SMP ternyata perlu lebih berempati lagi terhadap pemikiran orang. Namun di satu sisi saya patah hati karena saya tidak yakin bisa melanjutkan jadi psikolog.

Kata-kata Mas Budi itu menancap di kepala saya sampai sekarang. Setara dengan saya tetap mengacu pada ketetapan DSM mengenai LGBTQ sekalipun teman-teman seangkatan saya yang psikolog malah bersikap alergi terhadap LGBTQ menyesuaikan ajaran agamanya. uhuk.

Waktu berlalu, sejak 2006 saya memilih menghabiskan waktu untuk bekerja walau tidak bagai kuda sehingga saya hampir tidak punya waktu membaca buku. Alasan saya sih sederhana. Saya kontraktor. Kalau kebanyakan beli buku, saya repot pindahan dari kontrakan sini ke kontrakan sana. Saya masih membaca jurnal secara rutin tapi saya jadi jarang baca buku apalagi Filsafat.

Lalu Om Pir menulis buku ini. Seketika saya jadi terjebak nostalgia bagaimana saya pernah menikmati ide para filsuf ini. Om Pir mengingatkan kembali soal Arete dan Amor Mati. Sesuatu yang ada di memori kepala saya tapi telah terhempas jauh ke dalam sana.

Terima kasih Om Pir, saya jadi tergoda untuk membeli buku Meditations karya Marcus Aurelius. Buku ini memang semacam tahap awal untuk berkenalan dengan Filosofi Stoa. Namun percayalah buku ini bukan untuk sekali baca lalu dipajang di rak. Banyak hal yang perlu kita baca ulang terutama kalau perilaku negatif kita mulai kambuh. Beneran. Karena di buku ini penerapannya macam-macam. Bisa kita sebagai orang yang melihat negara, orang yang perlu melanjutkan hidup setelah peristiwa buruk di masa lalu ataupun seseorang yang berharap orang lain berubah. 

Apalagi Om Pir menyiapkan langkah sederhana yang bisa kita ulang-ulang sebelum menyembur ke orang lain. 3 langkah sederhana ini saya suka karena landasan logisnya. Iya saya penganut kalau-bisa-logis-ga-usah-dibawa-magis. 

Saya senang Om Pir menjawab pertanyaan besar saya selama ini, ‘apa hidup bahagia harus dengan selalu berpikir positif?‘ Saya plong saya tidak sendiri karena merasa berpikir positif itu semacam kemustahilan bagi orang yang cenderung murung seperti saya ini.

Andai saja buku Om Pir tiba satu minggu sebelumnya, buku ini saya bawa berlibur ke Singapura dan membantu saya untuk tidak murka di tempat yang salah. Melalui tulisan di buku ini saya diingatkan bahwa masa lalu itu sudah tidak selaras dengan alam. Ah banyak lah sebenarnya bagian di buku ini yang saya stabilo, beri stiker dan diurek-urek. Malah tidak menutup kemungkinan buku ini dijadikan work book loh. 

sekarang saya punya solusi untuk menghadapi situasi di atas karena baca buku Om Pir selain menghindar atau diam sejuta kata. 
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s