Silver Linings Playbook..

Ketika deretan tugas sedemikian rupa saya susun untuk menutupi emosi yang saya rasakan, film Silver Linings Playbook muncul di linimasa Twitter saya. Diawali rasa penasaran saya dengan akting Jennifer Lawrence (yang memang saya sudah kepincut dengan nona manis ini sejak menonton Hunger Games) akhirnya saya menonton film ini bersama partner saya. Menyenangkan sekali saya menemukan kejutan di film ini bahwa ada aktor India favorit saya : Anupam Kher (ya di masa kecil saya suka sekali nonton film India jadi harap maklum).

Saya tidak ingin mengulas film ini, tapi bagaimana film ini membuat saya melihat ke diri saya sendiri tentang pernikahan. Tiap lagu dan film di dunia ini begitu indah menggambarkan jatuh cinta, tapi sedikit yang bisa menggambarkan perjuangan mempertahankan komitmen (cinta mula-mula kata Alkitab saya). Saya bisa berempati kepada Pat dan Tiffany yang mengalami gangguan mental akibat pernikahan mereka. Saya belum menikah tapi saya sudah mengalami kegamangan sendiri dengan komitmen. Awal tahun saya jenuh dengan hubungan yang saya miliki, saya kehilangan cinta mula-mula. Saat ini kondisi sudah jauh lebih baik tapi hari per hari adalah bahu membahu mengurus bisnis. Kami memang masih bisa meluangkan waktu untuk makan berdua, pergi ke taman, mengurus kucing bersama. Dari hal-hal kecil itulah saya harus mengumpulkan semua semangat saya untuk kembali ke cinta mula-mula.

Percayalah, masalahnya adalah saya. Tidak ada yang salah atau kurang dari partner saya. Saya tidak bisa memikirkan pasangan yang lebih tepat untuk saya selain dia. Permasalahannya adalah saya. Saya yang bisa naik turun seperti bianglala di Dufan. Ketika melihat film itu saya juga berpikir betapa saya sangat mencintai dansa sekalipun dansa saya jauh dari indah. Namun toh saya tidak melakukan usaha apapun untuk memupuk cinta saya kepada dansa. Saya berhenti berdansa dan mengabdikan seluruh waktu saya hanya untuk melakukan tugas. Saya seperti didesain sempurna untuk bekerja. Tidak lebih tidak kurang.

Ok kembali lagi ke soal cinta mula-mula, ketika saya sendirian, saya sebisanya membaca kembali kisah kami beberapa tahun yang lalu, melihat album foto, mendengarkan lagu yang menurut saya romantis tapi itu seperti obat penenang sementara seperti yang diminum Pat dan Tiffany. Mungkin di sinilah saya perlu menyadari, wajar jika semua degupan dan percikan itu berlalu. Bukankah kembang api tidak muncul setiap hari ? Selama kami masih menyisihkan sedikit waktu di tengah-tengah kesibukan untuk berdua bicara dari hati ke hati, kami telah berusaha maksimal menyalakan romantisme tersebut dengan manis 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s