Udah Nikah = Udah laku

Let's have a dream

Beberapa waktu ini saya berpikir secara mendalam konsep ‘udah laku‘ untuk mendeskripsikan perempuan yang sudah menikah. Saya berpikir ada benarnya juga pernyataan itu. Membuat sebuah pernikahan bisa terjadi di Indonesia seperti sebuah close deal penjualan produk. Mengapa saya jadi berpikir seperti itu? Begini, selain menjadi guru, saya juga memiliki usaha jasa pindahan (www.rajapindah.com) di wilayah Depok dan Cibubur. Untuk menawarkan jasa ini, saya dan staf sales rajin menyebarkan brosur  jasa ini yang terbilang baru di Indonesia. Jika ada orang yang tertarik kami akan mensurvey lalu memberikan penawaran harga. Biasanya orang akan menawar lalu kami akan berusaha memberikan potongan harga sampai akhirnya close deal. Setelah orang tersebut setuju dengan harga terakhir yang kami berikan, mulailah kami mempersiapkan tim untuk melakukan eksekusi pindahan. Begitu terus siklus itu berulang.

Untuk membuat sebuah pernikahan, di beberapa kasus situasinya tidak sesederhana penjualan jasa. Perempuan yang ingin menikah melakukan berbagai cara untuk ‘terlihat dan diminati’ calon pasangan. Ada yang gencar dan ada yang santai nyaris tidak peduli.  Setelah akhirnya sama-sama berminat dan terikat dalam status pacaran, kembali promosi dilakukan ke kedua belah pihak keluarga. Kalau jasa pindahan hanya melibatkan satu customer per transaksi, maka tidak dengan pernikahan. Semua pihak berkepentingan bahkan kadang orang yang mau menikah ini hanyalah dijadikan boneka ketika hari H. Harus begini harus begitu ikuti saja yang penting semua senang. Itu di hari H ya.

Untuk mencapai hari H, situasinya justru lebih rumit. Tidak jaminan bahwa inner beauty ataupun talenta apapun yang dimiliki seorang perempuan bisa membuat dia bisa jadi menikah / akhirnya dinikahi. Tidak jaminan juga penampilan yang menarik bisa membuat orang langsung ada yang mau untuk dinikahi. Ada malah orang yang biasa saja bisa cepat menuju realisasi sebuah pernikahan. Intinya buat saya, sebuah pernikahan bisa cepat terlaksana adalah ‘penjualan produk yang tepat ke target pasar yang tepat‘. Mengapa pasar bukan calon pembeli? Lah yang ikut menilai si produk alias calon melibatkan seluruh keluarga jadi pasar dong!

Lagi-lagi menurut saya nih ya, sama seperti dalam dunia sales, penjualan produk ini bisa menggunakan berbagai trik. Anda tentu tahu ada sales-sales yang menawarkan sebuah produk yang terlihat bagus dan ketika dibeli mengecewakan. Ya sama dengan pernikahan, sering saya mendapat cerita, setelah seluruh anggota keluarga sreg (atau mengiklaskan diri untuk sreg), ternyata yang dipinang tidak sesuai harapan : masa ga bisa masak, masa ga mau kerja, masa begini masa begitu. Dalam hati saya pun cuma bilang : setidaknya bisa ngangkang dan bisa terlihat cantik kalau diajak ke kawinan.Yang penting kan di depan publik : sudah laku! Target penjualan terpenuhi! Ada juga perempuan-perempuan yang santai dan bertemu dengan calon dan keluarga yang juga tidak rumit. Klop! Semua setuju semua senang dan sekali lagi transaksi penjualan terjadi.

Kasus rumit juga tidak jarang terjadi. Perempuannya sudah bagus dan layak ‘jual’. Dia punya talenta, punya karier yang bagus, dia penuh semangat, bahkan bisa masak pula, tapi semua segi positif itu langsung terkubur di mata ‘pasar’ hanya karena dia bukan satu suku/bukan satu agama/bukan satu kasta. Perempuan-perempuan ini bisa tetap dengan pasangannya tapi tidak bisa berlanjut ke close deal karena tersandung dengan pasar yang melihat perbedaan s.a.r.a itu adalah sesuatu yang besar dan mendasar. Disinilah terjadi transaksi penjualan yang alot. Beberapa kasus, akhirnya perempuan itu pindah ke pasar lain yang lebih menghargai dia alias putus dan cari yang lain. Beberapa tetap bertahan karena sebenarnya dia sudah memiliki banyak kesamaan visi dalam hidup. Yang bertahan inilah yang mengalami negosiasi penjualan yang melelahkan. Bayangkan sebuah transaksi penjualan yang tawar menawarnya hampir mirip dengan debat kusir, belum lagi orang luar yang cuma pintar ngomong basa basi ‘kapan nih nikahnya?’ Seperti nmanya pertanyaan-pertanyaan tersebut cuma dilontarkan dan bikin basi hati alias gondok. Well for those in this story, I would like to share this video :  I won’t give up – a song by Jason Mraz

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s